banner 728x90

‘Ketakutan’

By: On:

Catatan renungan Abang:

Oleh : DR. Rahmad Arsyad (Wasekjend Yaskum Indonesia)

Terlalu banyak sisi kehidupan dunia ini, kita isi dengan ketakutan. Takut akan kesusahan,  penderitaan, masalah, sakit, cacat, perasaan tidak berguna ditengah masyarakat, jelek/buruk rupa, tidak bisa menemukan jodoh, perceraian, kemiskinan, kehilangan pangkat dan jabatan, serta banyak ketakutan-ketakutan lain yang hadir terus menerus, seiring dengan perjalanan usia dan hari-hari yang kita lewati.

Bahkan, dalam menjalani kepercayaan Agama dan kepada Tuhan sekalipun, masih pula kita lakoni dengan penuh ketakutan. Tuhan yang hadir dalam bayangan kita adalah sosok yang menakutkan dan menjadi sumber kecamasan. Kita terus  sibuk akan akan ketakutan kepada ‘azab Tuhan dan neraka’ yang membuat Tuhan hadir serupa monster yang pemarah.

Dalam sejumlah sejarah agama, pada awalnya kerena ketakutan maka orang-orang berlomba memuja, menyembah dan mencari perlindungan kepada Matahari, Bulan, Angin, Hujan, Binatang, Pohon dan benda-benda lain yang memiliki kekuatan diluar diri manusia.

Lalu hadirlah para Dewa, Agama, lantas keyakinan akan  Tuhan. Dahsyatnya ketakutan ini, maka didalam agama hindu pemujaan banyak diberikan kepada Dewa Syiwa  sosok penghancur yang kemudian memperkenalkan keyakinan akan karma, hukum darah, bawaan lahir dan reinkarnasi, sebagai cara membebaskan dari ketakutan dan hukuman Tuhan.

Pada sisi yang berbeda dalam agama berbeda, sejumlah ritual ibadah berubah menjadi layaknya mantra obat penghalau takut. Bukan lagi menjadi jalan, pertemuan atau perbincangan dengan Tuhan.

Terlalu banyak, para pimpinan kelompok keyakinan, Spiritual, aliran, faham, Sekte, Mazhab, bahkan pemimpin Agama membangun dan memanfaatkan ketakutan-ketakutan tersebut dengan berbagai cara. Lalu membentuk ketakutan-ketakutan baru sesuai versi dan kehendak mereka.
Mendoktrin umatnya, dari satu ketakutan menuju ketakutan yang lain.

Sampai umat itu lupa, tujuan dan esensi dari keyakinan dari ajaran yang diikutinya yang ada hanyalah ketakutan dan ketakutan. Lalu, tanpa sadar umat-umat itu akhirnya menjadikan para pemimpin agamanya serupa Tuhan .

Para pemuka Penyembah Tuhan secara cerdik dan cerdas menghidupkan kembali berhala-berhala / kebendaan dan dewa-dewa baru secara tersembunyi yang telah dibungkus, dikemas dengan kata-kata indah, namun bernuansa mengancam dan menakutkan demi mempertahankan kekuasaan dan Tuhan-Tuhan mereka.

Membuat umat manusia yang mencari jalan ketenagan dalam hidup, petunjuk dan  tuntunan, justru terjebak pada ketakutan- ketakutan baru yang membuat semakin jauh dari tujuan dan tuntunan kehadiran Tuhan dan Agama itu sendiri. Sebagai jalan keselamatan dan menghindari kekacauan hidup.

Masihkah, cara bertuhan dengan ketakutan ini kita pertahankan?
Nahhh….!!! kita yang dalam pengemblengan mental dan spritual……..

Apakah harus terus pada tingkatan AWAL (Tingkat Ketakutan) ? terus menerus berdasarkan TAKUT dan TAKUT ?

Bukankah, tingkat  selanjutnya dari ketakutan kita mesti beranjak pada kekaguman, lalu pada akhirnya menuju kesadaran mutlak yang tertinggi? Mari kita bertanya pada diri sendiri…

Kembangan, 21 Juli 2017

 

banner 468x58

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply